Yusri, Menggagas Sentra Pengolahan Kelapa Terpadu di Kabupaten Batu Bara Reviewed by Momizat on . Kabupaten Batu Bara adalah salah satu sentra perkebunan kelapa di Provinsi Sumatera Utara. Kebun kelapa rakyat di daerah ini luasnya sekitar 8.000 hektare, deng Kabupaten Batu Bara adalah salah satu sentra perkebunan kelapa di Provinsi Sumatera Utara. Kebun kelapa rakyat di daerah ini luasnya sekitar 8.000 hektare, deng Rating: 0

Yusri, Menggagas Sentra Pengolahan Kelapa Terpadu di Kabupaten Batu Bara

Yusri, Menggagas Sentra Pengolahan Kelapa Terpadu di Kabupaten Batu Bara

Kabupaten Batu Bara adalah salah satu sentra perkebunan kelapa di Provinsi Sumatera Utara. Kebun kelapa rakyat di daerah ini luasnya sekitar 8.000 hektare, dengan produksi diperhitungkan bisa mencapai 100.000 butir per hari.

Ini merupakan satu potensi besar, dan seorang pelaku usaha bernama Yusri melihat potensi itu sebagai peluang ekonomi.

Yusri adalah seorang warga Desa Pasir Permit, Kecamatan Limapuluh, yang fokus pada usaha pengolahan pascapanen kelapa. Satu produknya yang kini fokus dikembangkan adalah virgin coconut oil (VCO).

Sudah banyak yang tahu, bahwa VCO digunakan oleh banyak orang di seluruh dunia untuk bermacam keperluan dari memasak hingga menjaga kesehatan.  VCO dibuat dari kelapa tua yang sudah matang sempurna, diproses secara higenis dengan cara fermentasi tanpa perlu tambahan bahan pengawet dan bahan kimia lain.

VCO dipercaya mengandung sejumlah manfaat, efektif membunuh mikroorganisme dalam tubuh, memiliki kemampuan sebagai antivirus, antibakteri, antijamur, antiprotozoa, dan antioksidan, serta kemampuan untuk meningkatkan jumlah sel darah putih.

Yusri dengan produk VCO buatannya. (Foto Agroplus)

Yusri dengan produk VCO buatannya. (Foto Agroplus)

Yusri melakoni pembuatan VCO sejak tahun 2005. “Awalnya tak pernah berpikir ini bakal jadi usaha utama. Dulu lebih fokus pada usaha sabut kelapa,” kata Yusri membuka pembicaraan.

Dia termotivasi membuat VCO, awalnya untuk mengobati sang ibu yang divonis dokter sakit kanker payudara stadium 3. Ketika ibunya berhasil sembuh, dia pun memutuskan untuk terus menggeluti usaha ini dengan memantapkan kualitas produksinya lewat serangkaian kegiatan pelatihan dan pembinaan.

Selain jadi binaan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Batu Bara, Yusri kini juga jadi binaan Bank Indonesia.

Yusri mengaku, produksi VCO-nya fluktuatif, rata-rata 300 liter/bulan. Namun, pada Juli 2015 dia pernah mengirim sebanyak satu ton ke Singapura.

Keseharian, Yusri menjual produk VCO yang diberi merk Mazzuri dengan kemasan botol ukuran 100, 300 dan 600 ml. “Pasar yang rutin, selain langsung ke konsumen di seputar Batu Bara dan melalui online, juga ke Medan lewat distributor dan ke Jakarta dipasarkan adik,” ucapnya.

Walau usahanya belum begitu besar, tapi Yusri punya visi jauh ke depan, membuat sentra pengolahan kelapa terpadu di Kabupaten Batu Bara. Sebab, selain VCO, dia juga punya produk turunan kelapa lain berupa sabun kecantikan, dan tengah menjajaki usaha produk turunan kelapa lainnya.

“Misalnya arang batok kelapa, ada orang Jakarta yang sanggup dikirimi 500 ton/bulan. Saya tengah hitung-hitung suplainya, soalnya walau Batu Bara sentra produksi kelapa, tapi kan nyaris tidak punya batoknya karena umumnya kelapa dijual bulat-bulat ke luar daerah,” katanya.

Namun yang sudah dijalankan adalah ekspor sabut kelapa dan cocofiber, meski masih secara undername atau menggunakan perusahaan orang lain , sehubungan sejumlah kendala administrasi dan peralatan.

“Misalnya untuk pembuatan cocofiber, bakal stagnan jika musim hujan karena saya tidak punya dryer. Sementara pelanggan kan tidak mungkin menunggu,” ucapnya.

Ada produk-produk turunan kelapa lain yang bisa dibuat. Seperti dulu Yusri juga sempat membuat nata de coco, namun gara-gara beredar isu di masyarakat bahwa pembuatan nata de coco menggunakan urea, permintaan pun turun drastis sehingga dia berhenti produksi.

“Tapi kalau isu itu mereda, saya mau juga buat lagi,” imbuhnya.

Intinya, Yusri ingin menunjukkan ke masyarakat Kabupaten Batu Bara, bahwa potensi alam yang dimiliki harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk peningkatan ekonomi. Kuncinya, mau usaha dan kerja keras, serta mau terus belajar.

Di workshop atau tempat produksinya, Yusri memampangkan papan bertuliskan namanya dengan embel-embel di belakang, PhSI. “Itu bukan titel sarjana, tapi singkatan dari Pengusaha Sukses Insya Allah,” ujarnya sambil tersenyum. (Sumber : Agroplus.co.id)

Tinggalkan Komentar

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Translate »
Kembali ke atas