Target Swasembada Reviewed by Momizat on . Tahun 2017, cabai masuk daftar fokus pengembangan Dinas Pertanian Sumut. Itu, kata Kepala Sub Bagian Program Dinas Pertanian Sumut Marino, berdasarkan arahan Me Tahun 2017, cabai masuk daftar fokus pengembangan Dinas Pertanian Sumut. Itu, kata Kepala Sub Bagian Program Dinas Pertanian Sumut Marino, berdasarkan arahan Me Rating: 0

Target Swasembada

Target Swasembada

Tahun 2017, cabai masuk daftar fokus pengembangan Dinas Pertanian Sumut. Itu, kata Kepala Sub Bagian Program Dinas Pertanian Sumut Marino, berdasarkan arahan Menteri Pertanian bahwa Indonesia harus melakukan Upaya Khusus (Upsus) cabai.

Dimasukkannya cabai bersama dengan bawang merah, padi, jagung dan kedelai, itu berarti komoditas ini harus swasembada.

Tanaman yang termasuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi ini, memang bisa dibilang luar biasa karena kebutuhannya tinggi. Sehingga, tidak hal baru lagi jika harganya sering sekali mahal.

Karena itu, produksinya harus digenjot agar bisa memenuhi kebutuhan. Sebagai target swasembada, Dinas Pertanian Sumut pun mematok target luas tanam cabai pada tahun 2017 seluas 37.101 hektare.

Target ini tentu tidak main-main. Terlihat perbedaan yang mencolok dibandingkan luas tanam tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2016, luas tanam cabai Sumut hanya seluas 8.271 hektare, tahun 2015 seluas 13.531 hektare, 2014 mencapai 13.531 hektare dan 2013 seluas 14.704 hektare.

“Tentu berbagai upaya dalam pengembangan cabai akan dibahas sehingga bisa berjalan baik di tahun 2017,” sebut Marino.

Menyoal produksi cabai, tahun 2016 panenya sebanyak 139.222 ton dengan produktivitas sebesar 145,48 kg per hektare. Sejauh ini, Simalungun masih tercatat sebagai sentra yang produksinya tertinggi yakni 42.717 ton dengan produktivitas 298,93 kg per hektare.

Diikuti Karo sebanyak 30.766 ton dengan produktivitas 104,04 kg per hektare dan Kabupaten Batubara sebanyak 27.819 ton dengan produktivitas 170,36 kg per hektare.

Rajinnya cabai mengerek inflasi tentu sudah sepatutnya menjadi perhatian pemerintah. Sebut pengamat pertanian Sumut Prof Abdul Rauf, cabai bisa dikembangkan sebagai komponen rumah pangan lestari atau urban farming.
Caranya dengan pemanfaatan lahan pekarangan untuk budaya tanaman menghasilkan dengan teknik pot system. Jadi pengembangannya pun tak harus dengan lahan yang luas.

Petani Tidak Tanam Serentak
Dalam upaya menjaga pasokan cabai, petani sudah mulai sepakat untuk tidak tanam serentak. Kesepakatan ini sudah mulai dilaksanakan petani di Kabupaten Batubara.

Seperti dituturkan oleh Suhendra, seorang petani cabai di Desa Pematang Jering Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batubara, tidak tanam serentak sudah dijalankan petani sejak bulan April 2016.

Sehingga pada satu musim, pertanaman cabai akan ada dengan berbagai kondisi. Seperti ada yang menanam, sedang memupuk serta panen.

Sejauh ini, tidak tanam serentak ini memang mampu menjaga harga cabai di tingkat petani. Setidaknya, di Batubara. Karena panennya tetap ada tapi tidak dengan jumlah yang banyak.

Tidak tanam serentak ini juga memunculkan semangat di kalangan petani. Cabai yang bisa jadi tanaman tumpang sari dan terbilang kebal terhadap penyakit, membuat petani tidak takut. Hanya saja, petani memang harus belajar lebih giat dalam menjaga tanamannya. Karena hama (penyakit) berupa bakteri yang berpotensi menyerang tanaman cabai, bisa saja seperti petir.

“Mengagetkan petani maksud saya. Karena jika satu tanaman saja terserang, nanti bisa semuanya terkena dan mati. Nah, ini yang terus dipelajari petani,” ucap Suhendra.

Bagian dari kekompakan tidak tanam serentak, petani juga sudah mulai fasih dalam pembuatan pupuk mol cair (mikroorganisme lokal). Fungsinya untuk membasmi jamur (bakteri). Pupuk mol lebih murah dan mudah membuatnya. Modalnya pun hanya Rp 20.000 untuk mendapatkan 15 liter.

Pupuk mol cair ini bisa dibuat dari kates dan bonggol pisang. Campurannya satu kilogram gula merah, satu liter air cucian beras, satu liter air kelapa, ditambah 13 liter air sumur. Dicampur dan diaduk sekali sehari selama 10 hari. Selain untuk membasmi bakteri, pupuk mol cair ini juga bisa meningkatkan pH (tingkat kemasaman) tanah. Jadi selain dapat menikmati harga cabai, modal yang dikeluarkan petani pun kini semakin irit.

Tinggalkan Komentar

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Translate ¬Ľ
Kembali ke atas