Membidik Rupiah dari Bisnis Kelapa Reviewed by Momizat on . Kelapa (Cocos nucifera) cukup familiar bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut). Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya sehingga dianggap sebagai tumbuh Kelapa (Cocos nucifera) cukup familiar bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut). Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya sehingga dianggap sebagai tumbuh Rating: 0

Membidik Rupiah dari Bisnis Kelapa

Membidik Rupiah dari Bisnis Kelapa

Kelapa (Cocos nucifera) cukup familiar bagi masyarakat Sumatera Utara (Sumut). Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya sehingga dianggap sebagai tumbuhan serbaguna, terutama bagi masyarakat pesisir. Tidak heran, tumbuhan yang diperkirakan berasal dari pesisir Samudera Hindia namun kini telah menyebar luas di seluruh pantai tropika dunia ini, banyak dibidik petani demi meraup rupiah.

Begitupun, petani umumnya memilih menjual buah kelapa saja. Karena dari semua bagian kelapa, buahnya adalah bagian paling bernilai ekonomi. Padahal, tanaman yang adaptif pada lahan berpasir pantai ini dan pohonnya mencapai ketinggian 30 meter, memiliki nilai rupiah lebih dari sekadar harga jual buah kelapa.

Produk turunannya terbilang sudah banyak dan bahkan sudah mencecap pasar luar negeri alias ekspor. Inilah yang kemudian membuat Yusri, petani di Desa Ujung Kubu Kecamatan Tanjung Tiram Kabupaten Batubara, bergelut dalam bisnis turunan kelapa.

Keinginannya terlecut ketika dikirim Dinas Perkebunan Batubara mengikuti pelatihan pengolahan kelapa terpadu tahun 2012 di Yogyakarta. Di sana, pria yang awalnya bertani kelapa, jagung dan cabai merah ini, diajarkan cara membuat minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO), sabun VCO dan ditunjukkan juga cara pengolahan sabut dan batok kelapa.

Keinginan itu semakin menggunung ketika mendengar Cocomesh (coir net geotextille) atau jaring sabut kelapa sudah dipasok ke PT Agincourt Resources Martabe di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel).

Dari sekian banyak fungsi Cocomesh, salah satunya memang digunakan untuk reklamasi bekas lahan tambang. Reklamasi ini sesuai peraturan pemerintah kepada semua perusahaan yang melakukan kegiatan eksplorasi untuk melakukan penghijauan kembali terhadap lahan yang rusak setelah kegiatan penambangan berakhir.

Hal ini pun membuat permintaan Cocomesh cukup kencang karena pertambangan di Indonesia termasuk Sumut, lumayan banyak.
“Saya benar-benar terpanggil untuk mengolah sabut kelapa. Karena di tempat saya (Batubara), sabut dibakar. Sayang, kan? Padahal, sabut-sabut itu bisa menghasilkan uang,” cerita Yusri.

Bermula dari “panggilan” sekaligus nekad, kontrak perdana akhirnya Yusri dapatkan dari PT Agincourt Resources Martabe untuk Cocomesh sebanyak 10.000 meter per segi. Padahal, saat “deal” kontrak itu, dia belum tahu cara membuat Cocomesh. Tapi kontrak yang berjangka waktu tiga bulan itu bisa terpenuhi dan menjadi awal bisnisnya berjalan.

Dengan kapasitas produksi mencapai 20.000 meter per segi per bulannya, kini Yusri juga memasok Cocomesh ke PT PEN Indonesia. Dan sebagai langkah untuk memasuki pasar luar negeri (ekspor), dia sedang nego dengan buyer (pembeli) dari Fiji. Permintaannya, 100.000 meter per segi per bulan.

Produk unggulan lain yang dilahirkan Yusri adalah Sabut Kelapa (Coco Fiber). Kapasitas produksinya mencapai 20 ton per bulan dan sudah di ekspor ke China. Coco Fiber merupakan hasil olahan dari kelapa sehingga menghasilkan serat sabut yang mempunyai banyak manfaat.

Diantaranya untuk membantu proses perkembangan pertanian dan perkebunan. Selain itu sebagai bahan olahan untuk kebutuhan sekunder seperti alat-alat kebutuhan sehari-hari contohnya keset, kerajinan tangan, dan sebagainya.
Belakangan, coco fiber lumayan sering digunakan di bidang pertanian.

Yakni sebagai sarana media tanaman. Karena sabut kelapa mempunyai sifat kapilaritas yang tinggi untuk menyimpan air. Tidak heran, “pasarnya” terbuka lebar. Harganya saat ini, senilai US$ 285 per ton.

Yusri yang dipasaran menggunakan nama retail Mazuri Indonesia ini, juga memproduksi VCO (minyak kelapa murni) dengan kapasitas produksi mencapai 10 ton per bulan. Ini pun bisa dibilang punya pasar bagus. Karena berdasarkan penelitian dan pengamatan klinis, asam lemak rantai sedang yang ditemukan dalam VCO berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit.

Cara produksi VCO tidak terlalu sulit. Setelah kelapa dibelah, lalau dikukur, diparut, kemudian di press. Santan yang dihasilkan pun di campur dengan VCO murni dengan perbandingan 3:1. Setelah 12 jam sudah panen. Lalu disaring dan di kemas. VCO pun sudah siap dijual.

Produk turunan untuk kecantikan, juga ada dihasilkan tangan dingin Yusri. Yakni Sabun VCO. Sabun ini digadang-gadang sebagai solusi bagi wajah yang memiliki masalah seperti jerawat dan flek hitam. Selain itu, Sabun VCO juga memiliki fungsi sebagai anti aging.

Sabun VCO ini lahir dengan hasil olahan minyak VCO dicampur dengan bahan pembuat sabun yakni NaOH, asam stearat, gula, garam, gliserin dan parfum. Produksi per bulannya mencapai 25.000 butir.

Nah, pasar Pakistan juga telah tercatat dalam perjalanan Yusri. Dia mengekspor lidi sebanyak 125 ton per bulan ke negara tersebut.

Bisnis yang sudah memasuki umur empat tahun ini, memang tidak sulit untuk mendapatkan bahan baku. Batu Bara sendiri punya sekitar 8.000 hektare tanaman kelapa. Karena itu, Yusri ingin usahanya kelak bisa “naik kelas” dan menghasilkan produk jadi.

Serapan tenaga kerja pun pasti bertambah akan bertambah dari saat ini sebanyak 14 orang karyawan dan 30 orang tenaga kerja harian lepas.

Dia juga ingin produk-produknya menyasar lebih banyak negara. Untuk ekspor, sampai saat ini memang masih undername. Tapi sedang dalam proses pengurusan dengan nama Abasa Internasional (Agro Batubara Sentosa Internasional) dan kemungkinan akan siap pertengahan Desember 2016.

“Saya juga aktif dengan digital marketing sekarang untuk mendapatkan kontrak (customer). Ya, selain ikut pameran berskala internasional dan gabung di beberapa komunitas,” kata Yusri.

Tentu pasar lokal juga tidak luput dari bidikan Yusri. Jika selama ini produknya sudah masuk ke Jakarta, Pelembang dan Riau, dia ingin wilayah pemasaran yang lebih luas.

Tinggalkan Komentar

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Translate ¬Ľ
Kembali ke atas