Lima BUMN Sinergi Bangun Kuala Tanjung Reviewed by Momizat on . MEDAN - Lima Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersinergi dalam menyukseskan pembangunan dan pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung yang meliputi Kabupaten B MEDAN - Lima Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersinergi dalam menyukseskan pembangunan dan pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung yang meliputi Kabupaten B Rating: 0

Lima BUMN Sinergi Bangun Kuala Tanjung

Lima BUMN Sinergi Bangun Kuala Tanjung

MEDAN – Lima Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersinergi dalam menyukseskan pembangunan dan pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung yang meliputi Kabupaten Batubara dan Kabupaten Deliserdang, Sumut.

Sinerji itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) usai forum group discussion di Medan, Rabu (13/4). Lima BUMN yang terlibat dalam penandatanganan MoU itu adalah PT Kawasan Industri Medan (KIM), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 3, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) 1, dan PT Pertamina.

Penandatanganan MoU disaksikan Deputi Bidang Usaha Pertambangan dan Industri Strategis Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Surya Wiawan, Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian Imam Haryono, dan Komisaris Inalum Chairuman Harahap.

Vice President Strategic Planning and Bisnis Development Pertamina Wahyudi Satoto mengatakan, pihaknya siap menyalurkan sumber energi untuk pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung. Program yang sedang dilakukan membangun pipa dari Arun ke Belawan untuk menyalurkan gas LNG sepanjang 340 km.

Setelah itu, dibangun pipa gas menuju KIM sepanjang 18,5 km dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei pada Maret 2016 yang masih dalam proses “komisioning” atau uji coba peralatan baru yang dalam tahap pengawasan. “Ke Kuala Tanjung juga akan dibangun sepanjang 21 km, termasuk ke (Bandara) Kualanamu,” tuturnya.

Untuk itu, pihaknya akan meminta masukan riil dari pengelola Kawasan Industri Kuala Tanjung mengenai kebutuhan agar dapat memiliki gambaran mengenai langkah yang dibutuhkan.

Dirut PT KIM Ruli Adi mengatakan sinergi BUMN dalam tataran aplikasi saja tidak cukup jika tidak didukung kementerian dan pemda. Karena itu, pihaknya mengharapkan para direksi BUMN yang terlibat dalam pembangunan Kawasan Industri Kuala Tanjung tersebut tidak boleh memiliki pola pikir parsial.”Menjadi direksi hanya penugasan saja, bukan milik kita. Sudah tidak zamannya BUMN kerja sendiri-sendiri,” ucapnya.

Sebagai lead project dalam pengembangan Kawasan Industri Kuala Tanjung, dia membantah jika KEK Sei Mangkei akan mati jika kawasan industri itu sudah beroperasi. “Itu tidak benar, justru mereka akan tersinerji,” ujar Ruli.

Komisaris PT Inalum Chairuman Harahap mengungkapkan rasa bangganya atas sinergi lima BUMN tersebut dalam pembangunan Kawasan Industri Kuala Tanjung. Namun, pihaknya juga mengharapkan pemerintah pusat memberikan dukungan penuh. “Semua tergantung pusat. Kalau kementerian sudah memutuskan, selesai sudah,” ujarnya.

Serius Benahi BUMN
Pada kesempatan itu Deputi Bidang Usaha Pertambangan dan Industri Strategis Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan pemerintah memberikan perhatian serius dalam membenahi berbagai BUMN agar membawa manfaat besar dalam kesejahteraan rakyat.

Selama ini, dia mengakui, banyak kritikan terhadap kinerja BUMN. Meski dianggap sebagai perusahaan yang besar, tetapi banyak pihaknya yang menilai kinerja BUMN itu lambat, birokratis, dan ruwet. Karena itu, pemerintah dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk membenahi kinerja BUMN.

Dia menjelaskan ketika menasionalisasi perusahaan Belanda pada tahun 1958, Indonesia memiliki 480 perusahaan yang bergerak di sejumlah bidang seperti perkebunann, RS, galangan kapal, dan perdagangan yang dijadikan BUMN.

Namun banyak perusahaan yang dinasionalisasi itu sudah tidak “bernyawa” karena yang diambil hanya berupa aset, bukan jaringan bisnisnya. “Bisnisnya di Eropa tidak diambil sehingga segala sesuatunya masih ditentukan Eropa,” katanya.

Dia menambahkan pemilihan atas perusahaan tersebut baru dilakukan 10 tahun kemudian, dengan membagi perusahaan itu atas tiga kategori yakni perusahaan jawatan (Perjan), perusahaan umum (Perum), dan persero.

Pada tahun 1998, jumlah perusahaan tersebut menyusut menjadi 191 perusahaan dengan berbagai pertimbangan, termasuk karena penggabungan dan likuidasi. “Kini jumlahnya menjadi 118 perusahaan,” katanya dalam diskusi dengan tema “Pengembangan Industri Aluminium Terintegrasi di Kawasan Industri Kuala Tanjung”.

Dia menambahkan meski jumlah BUMN tersebut tergolong banyak, tetapi pihaknya mengakui kinerja yang dihasilkan belum efisien. Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai konsep dan kebijakan agar BUMN yang ada di Tanah Air kuat dan lincah.
Satu kebijakan yang diambil adalah penyiapan bahan baku dari dalam negeri dan pengolahan berbagai produksi yang dihasilkan. “Di Inalum, dulu semuanya impor, hasilnya juga semua diekspor,” katanya.

Tinggalkan Komentar

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Translate »
Kembali ke atas