Inalum Jadi BUMN Ke-141 Reviewed by Momizat on . JAKARTA - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi menjadi bagian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ke-141 mulai Kamis (19/12). Peresmian ini d JAKARTA - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi menjadi bagian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ke-141 mulai Kamis (19/12). Peresmian ini d Rating: 0

Inalum Jadi BUMN Ke-141

ezCbVkCbE8

JAKARTA – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi menjadi bagian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ke-141 mulai Kamis (19/12).

Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan akta jual beli Inalum antara pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri BUMN Dahlan Iskan dan perwakilan investor Jepang dari Konsorsium NAA (Nippon Asahan Aluminium).

Total pembayaran yang telah diterima oleh investor Jepang untuk pembelian saham di Inalum mencapai US$ 556,7 juta.”Uang sudah masuk ke rekening mereka kira-kira jam 11 tadi (siang). Kabar dari Tokyo sudah masuk,” kata Dahlan sebelum Panandatanganan Akta Pengalihan Saham PT Inalum di lantai 21 Kementerian BUMN Jakarta, Kamis (19/12).

Proyek Inalum yang berlokasi di Sumatera Utara merupakan kerja sama persahabatan antara Indonesia dengan Jepang yang didirikan melalui penandatanganan kesepakatan antara pemerintah dengan konsorsium 12 investor Jepang pada 7 Juli 1975. Proyek kerja sama yang diatur dalam perjanjian “Master Agreement for The Asahan Hydroelectric and Aluminium Project” tersebut telah resmi berakhir pada 31 Oktober 2013.

Dahlan mengemukakan proses penandatanganan akta jual beli Inalum mengalami penundaan sekitar 1,5 jam dari jadwal sebelumnya karena ada perubahan isi dari lampiran perjanjian. Ada persoalan legal yang perlu ada revisi. Untuk merevisi, pihak NAA harus menghubungi perwakilan mereka di Jepang terlebih dahulu.”Itu terkait hukum. Itu kata-kata bagi kita nggak menarik. Namanya juga hukum. Masalahnya dia nggak boleh buat perubahan apapun,” jelasnya.

Proses penandatanganan sendiri berlangsung kurang lebih 5 menit. Acara dimulai pada pukul 13.40 WIB. Hadir pada acara penandatanganan ini perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, BPKP dan direksi Inalum. 

Dahlan, usai acara penandatanganan menjelaskan, untuk posisi jabatan direksi Inalum saat ini masih dipegang pejabat lama. Proses pergantian menunggu proses Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). “Hari ini baru final bahwa menjadi BUMN nanti akan RUPS ditentukan dirutnya. Dirut sekarang orang dalam jadi operasional nggak terganggu. RUPS bisa kapan saja. Dirut ditentukan RUPS,” sebutnya.

Dahlan meminta kepada jajaran direksi PT Inalum untuk bekerja keras pasca pengalihan dari konsorsium Jepang. Para direksi BUMN ke-141 ini diminta meningkatkan kapasitas produksi per tahun dari 250.000 ton menjadi 425.000 ton dalam kurun waktu 4 tahun ke depan.

“Pertama, tidak boleh merosot, tidak boleh lebih jelek. Kedua harus meningkatkan kapasitasnya 2 kali lipat dan itu mampu,” katanya. 

Untuk meningkatkan kapasitas produksi ini, Inalum membutuhkan pasokan listrik tambahan. Inalum berencana membangun PLTU 3X200 mega watt. Pendanaan ini diambil dari sumber internal perusahaan.

“Tanahnya sudah ada, pelabuhannya sudah ada jadi nanti prosesnya lebih cepat. Kemudian setelah itu, kalau bisa Inalum menjadi pemegang saham di proyek aluminium di Mempawah (Kalbar), miliknya Antam. Karena proyek alumunium di Mempawah itu akan menjadi bahan baku Inalum,” terangnya.

Selain itu, terkait alokasi 30% saham Inalum kepada pemerintah daerah di Sumatera Utara. Dahlan mempersilakan Pemda untuk memproses pembelian Inalum ke pemerintah pusat. “Terserah daerah, yang pasti dialokasikan 30%. Mau diambil silahkan, tidak diambil silakan. Terserah mereka. Besok pagi juga bisa,” sebutnya.

Adapun nama-nama direksi Inalum pasca menjadi BUMN adalah Sahala Hasoloan Sijabat sebagai Dirut, Harmon Yunaz sebagai Direktur Produksi, Nasril Kamaruddin sebagai Direktur SDM dan Umum, serta Emmy Yuhassarie sebagai Presiden Komisaris.

Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang Rachmat Gobel mengatakan, proses transfer seluruh saham PT Inalum dari Jepang kepada Indonesia tidak akan menjadi preseden buruk bagi hubungan dua negara. “Hubungan kedua negara akan baik-baik saja. Inalum itu perihal bisnis dan dapat diselesaikan dengan baik,” kata Rachmat yang juga CEO Panasonic.

Menurut Rachmat, Jepang telah berdiri di sisi Indonesia jauh sebelum negara lain membuka kerja sama bilateral dengan Indonesia.

Hubungan Jakarta-Tokyo telah dimulai sejak 1958 atau hingga kini telah berlangsung selama 55 tahun.”Hubungan itu tidak sekadar terkait perihal ekonomi saja tapi juga lebih dekat yaitu hati ke hati rakyat dan negara di antara kedua bangsa,” kata Rachmat. 

Sumber : MedanBisnis

Tinggalkan Komentar

Copyright PEMKAB BATU BARA © 2014 Hak Cipta di Lindungi Pemerintah. Ini situs bersifat informatif bukan merupakan legal opinion dari BAPPEDA Kab. BATUBARA. Apabila terdapat data elektronik bassed yang berbeda dengan data resmi paper, maka yang menjadi acuan adalah data resmi paper based.

Translate »
Kembali ke atas